Selasa, 23 Oktober 2018

SELAMAT MENGUNJUNGI WEBSITE BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NONFORMAL. PELAKSANAAN AKREDITASI SATUAN PAUD DAN PNF GRATIS/TIDAK BERBAYAR
close x

Melewati Lubang Maut; Mengalami Gempa Bumi di Palu, Sulawesi Tengah

Melewati Lubang Maut; Mengalami Gempa Bumi di Palu_1538839298.jpg

Tak ada firasat berarti ketika saya berangkat ke Palu, Sulawesi Tengah. Yang ada senantiasa bersuka cita menjalankan amanah negara dalam kapasitas sebagai Anggota Dewan Kebijakan Badan Akreditasi Nasional (BAN) untuk pelaksanaan akreditasi lembaga-lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Non Formal (PNF), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiah (PKPPS) di provinsi Sulawesi Tengah. Suka cita lainnya adalah menapaki sajadah panjang wilayah-wilayah di seluruh Indonesia.

Kami tiba di Palu jam 15.15  WITA, hari Jumat, 28 September 2018. Lili Yanti, staf yang mendampingi saya, menyampaikan bahwa di salah satu wilayah Sulawesi Tengah telah terjadi gempa bumi 5,5 SR. Mendengar kabar itu, reaksi saya biasa saja. Tak ada kecemasan atau ketakutan atas berita tersebut.

Di Bandara Mutiara Sis Al Jufrie, Palu, saya dijemput oleh ketua Badan Akreditasi Nasional (BAN) PAUD dan PNF Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu Drs. Abdurrahman A.Y. Rumi, M.Si. Hotel yang saya tempati adalah Hotel The Sya Regency, tak jauh dari Bandara.

Sebelum ke hotel, Pak Rumi menjamu makan kami berdua di Restoran Kaledo, kuliner khas Palu. Saat kami makan di restoran tersebut, gempa terjadi tiga kali, tapi tak terlalu besar dan tak mencemaskan.

Pak Rumi yang saat itu sedang salat ashar bahkan tak merasakan adanya tiga kali gempa tersebut.

"Saya tak pernah merasakan getaran gempa, meski getaran tersebut terjadi beberapa kali." Demikian kata Pak Rumi.

Kami pun meninggalkan restoran tersebut menuju hotel dan melewati pantai Palu di tengah kota. Setengah jam kemudian di pantai tersebut terjadi tsunami sangat besar yang mengakibatkan ratusan manusia meninggal.

Lubang Maut Itu

Saya tiba di hotel sekitar jam 17.30 WITA. Kamar yang saya tempati di lantai 5, nomor kamar 5126. Setiba di kamar, saya langsung mandi menjelang salat magrib.

Ketika siap-siap akan melaksanakan salat, kamar bergetar sangat keras seakan-akan hendak runtuh. Saya panik, tak bisa keluar. Pintu listrik kamar pun tak bisa dibuka, karena listrik mati.

Yang saya lakukan adalah menyelematkan diri ke kolong meja hotel, karena plafon dan langit-langit kamar runtuh, tempat tidur terbalik, jendela kamar juga runtuh, lantai terbelah, lantai lima seakan-akan bergeser. Gelap pekat, getaran dahsyat terjadi berkali-kali, seakan-akan kiamat telah terjadi. Ya, kiamat. Suasana itulah yang saya alami. 

Beberapa surat dalam Alquran muncul dalam ingatan saya seperti surat Alqariah (101) yang menggambarkan kiamat sebagai berikut:

1. Hari kiamat,
2. Apakah hari kiamat itu?
3. Dan tahukah kamu, apakah hari kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.
5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. "


Dalam surat Alwaqiah (surat 56):

1. Apabila terjadi hari kiamat,
2. terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal);
3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
4. Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya;
5. dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya;
6. maka jadilah ia debu yang beterbangan ...

Sepanjang lima jam itu saya berada di kolong meja, sambil berdoa dan berpasrah kepada Allah SWT. Dalam kesendirian, saya bergumam: "Barangkali inilah saatnya saya dipanggil Yang Kuasa. Puluhan ribu jarak dan pulau terlampaui, jauh dari Jakarta untuk menjemput maut, melepas nyawa." Pasrah.

Tetapi, ada penyangkalan dari sisi batin yang lain seraya merengek kepada Tuhan:

"Ya Allah, jika aku boleh memohon, janganlah engkau ambil aku sekarang ini, karena ada banyak pekerjaanku yang belum tuntas dan harus dituntaskan. Urusan hidup yang belum rapi dan perlu dirapikan. Selain itu, amal baikku masih teramat sedikit untuk bekal kembali kepadaMu."

Berbekal ingatan pada film Titanic, ketika tokoh yang diperankan Kate Winslet berteriak-teriak minta tolong kepada tim SAR yang mengevakuasi, saya pun melakukan hal yang sama dari kamar hotel yang sudah hancur tersebut.  

Sekitar satu jam saya melolong-lolong berteriak meminta tolong, baru ada orang yang bertanya dari bawah: "Apakah ada orang di kamar?" Dengan sekencang suara, saya jawab: "ada!!"

Menunggu beberapa lama untuk akhirnya ada tiga orang yang mengevakuasi saya dari kamar. Itu pun tak langsung bisa, karena pintu tak bisa dibuka, sebab menggunakan kunci magnet listrik yang mati. Barangkali mereka pun mencari linggis dulu, dan baru bisa mendobrak pintu yang sangat kuat itu.

Saya dievakuasi oleh tiga orang yang entah siapa. Sebab saat itu, belum ada pihak penolong dari luar, misalnya Basarnas. Koper beserta seluruh isinya saya tinggalkan di dalam kamar hotel. Yang terpenting menyelamatkan nyawa terlebih dahulu. Setelah orang-orang yang dievakuasi dikumpulkan di satu tempat di tanah yang lapang dan jauh dari bangunan, saya pun mencari Lili Yanti, staf BAN yang menemani.

Saya tanya pada orang yang memijat-mijat saya, yang agaknya staf hotel, "Bagaimana dengan lantai dua?" Tanyaku.

"Wah, lantai dua amblas, Bu!" Jawabnya.

"Wah, ini artinya aku akan bawa mayat ke Jakarta!" Batin saya.

Tak lama setelah itu, ada orang yang memanggil-manggil nama saya.

"Bu Neng! Bu Neng!"

"Saya!" Jawabku dengan suara keras. Yang mencari-cariku itu ternyata staf Badan Akreditasi Nasional Provinsi Sulteng atas perintah ketua dan sekretaris.

Tidur Beratapkan 'Langit'.

Setelah dievakuasai, segera saya mencari Lili Yanti. Saya pikir, kami tak boleh terpisah, karena kami datang ke Palu berdua dari Jakarta, maka penderitaan pun harus dirasakan bersama.

Mula-mula, kami mencarinya ke rumah ketua BAN Provinsi Sulteng dengan berkendaraan motor. Jalan yang kami lewati banyak yang amblas dan banjir. Beberapa kali saya turun dari motor, karena jalan tak bisa dilewati.

Rumah ketua BAN provinsi yang saya tuju pun amblas ke dasar tanah, dan di sebelahnya komplek Perumnas tertua di kota Palu pun seluruhnya amblas.Tak jauh dari perumahan tersebut, terjadi kebakaran kota dengan api yang sangat besar. Pencarian terhadap Lili Yanti pun kami lanjutkan. Rute diarahkan ke rumah sekretaris BAN Provinsi, masih tetap berada di tengah kota.

Di jalan raya, kami bertemu dengan sekretaris dan disuruh ikut ke suatu pesantren yang diasuh keluarga ketua BANP. Di tempat ini saya bertemu Lili, dan kami berpeluk-tangis antara haru dan syukur, karena kami berdua selamat. Di tempat inilah Lili menyampaikan agar saya segera memberikan kabar kepada keluarga.

"Lha, bagaimana memberi kabar, sementara seluruh jaringan terputus?" Tanyaku pada Lily.

"Jaringan XL masih tersambung, Bu!" jawab Lili.

Lili menyambungkan telepon kepada adik saya, Ace Hasan Sadzilly, dan hanya komunikasi tangisan saat tersambung dengan Ace seraya berkata, "Alhamdulillah, Teh Neng masih dipanjangkan umur," Ace menjawab, "yang penting kita dengar suara Teh Neng, itu artinya Teh Neng selamat." Kata Ace.

Sekitar jam 12.00 malam itu kami merebahkan diri di luar rumah, beratapkan langit. Kami tak mungkin tidur di dalam ruangan, sebab gempa yang sama kemungkinan masih terjadi.

Gempa memang masih terjadi malam itu. Beberapa puluh kali, tapi tak sebesar antara jam 6.00 sore hingga jam 9.00 malam. Sementara rumah-rumah banyak sekali yang ambruk dengan berbagai perabot yang berserakan dan bertumbangan.

Di hari pertama setelah gempa terjadi, jaringan listrik mati. Akibatnya, tak ada air yang membuat kami bisa buang air kecil maupun air besar, tak bisa mengisi baterai  handphone.

Tak ada yang berjualan dan juga kesulitan mencari makanan. Kami hanya berdiam dan tak ada yang bisa dilakukan ketika hari pertama itu, selain harus menerima kenyataan bahwa kami sedang menghadapi situasi yang sangat sulit.

Terpikir untuk segera balik ke Jakarta melalui Bandara Poso, tapi jalan darat menuju Poso pun banyak yang rusak dan tak bisa terlewati. Atau, naik kapal laut menuju Luwuk Banggai, tapi bagaimana mungkin hal itu dilakukan, sementara di laut sedang terjadi tsunami?

Akhirnya, kami pun bertahan di Palu dengan mengungsi ke Bandara bersama ribuan pengungsi lainnya, karena Bandara berada di dataran tinggi yang cukup jauh dari laut. Kami pun tidur di jalan raya beraspal, di mana jika ada mobil atau motor lewat, muka kami tersorot oleh lampunya. Juga, tanpa tenda atau penutup lainnya. Jika menatap ke atas, hanya beratapkan langit dengan awan hitam dan kerlap-kerlip bintang-bintang.

Saat kami tertidur, sekitar jam 1 malam, hujan yang langsung turun dari langit membasahi tubuh kami. Kami pun terbangun dan segera mencari tempat berteduh di tengah malam itu. Keluarga anggota BAN yang kebetulan mempunyai mobil, mengizinkan mobilnya untuk kami tiduri hingga menjelang subuh.

Subuh kami terbangun. Lagi-lagi kami kesulitan untuk buang air kecil maupun air besar, karena toilet kamar mandi masjid sudah membanjir oleh kotoran manusia dan ceceran bekas buang air kecil yang tidak disiram air.

Menghadapi situasi tersebut, saya berkata kepada Lili, "Li, bagaimanapun caranya, kita harus segera balik ke Jakarta dan mencari pesawat Hercules ke mana pun arahnya, baik ke Menado maupun ke Makassar."

Lily mendapat info dari Ifan Firmansyah, salah satu staf yang memantau kami bahwa ada anggota keluarganya di jajaran angkatan laut.

Berbekal kenalan anggota Angkatan Laut tersebut, di tengah-tengah lautan manusia yang hendak memanfaatkan pesawat Hercules untuk mengungsi ke provinsi lain, kami berdua menerobos lautan manusia menuju pintu gerbang untuk bertemu dengan anggota AU yang sedang di lapangan dan diminta bicara melalui handphone dengan anggota angkatan laut lainnya di Jakarta.

Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti anggota AU tersebut mengizinkan kami menumpang pesawat Hercules menuju Menado. Bersama dengan orang-orang yang sedang sakit, ibu-ibu hamil, ibu-ibu dengan membawa anak-anak kecil dan para orang tua lanjut usia, kami berdua bagian dari rombongan pesawat Hercules yang terbang ke Menado. Dari Menado kami menuju Jakarta.

Akibat Gempa.

Setelah tiba di Jakarta, dampak gempa yang terjadi pada diri saya sebagai berikut:

Pertama, seluruh badan terasa remuk, karena tertimpa plafon langit-langit kamar hotel dan juga memar-memar terantuk bangunan yang rusak akibat ruangan yang gelap. Sebagian besar terdampak gempa yang saya saksikan terdapat luka dalam bagian-bagian tubuhnya.

Kedua, jantung yang tak henti berdebar sangat kencang, karena seumur hidup baru mengalami getaran bumi yang sangat dahsyat tersebut.

Karena itu, tak sedikit mereka yang punya penyakit jantung saat itu langsung meninggal, di antaranya adalah salah satu asesor yang sedang melaksanakan validasi dan verivikasi akreditasi PAUD dan PNF yang dilaksanakan di Hotel Sya Regency tersebut. Bagi yang tak punya penyakit jantung pun, potensial getaran jantungnya bermasalah.

Ketiga, trauma psikis. Kasus yang menimpa saya, untuk beberapa hari hingga diterbitkannya tulisan ini, getaran gempa seakan-akan melekat. Sering terjaga dari tidur, karena seakan-akan telah terjadi gempa. Berulang kali terjadi dalam semalam. Ia perlu trauma healing tersendiri untuk mengatasinya.

Bantuan bagi Korban Gempa Bumi.

Selama dua hari menjadi pengungsi gempa, hal yang sangat penting dibutuhkan adalah tenda darurat. 

Sebagaimana diketahui, selama gempa terjadi, tak mungkin orang berdiam di rumah, karena gempa susulan kemungkinan terjadi. Maka ia harus ada di luar rumah, terutama di malam hari. Karena itu, tenda menjadi sangat penting untuk menghindari kepanasan maupun kehujanan.

Kedua, konsumsi. Pada saat gempa terjadi, uang sama sekali tidak berarti, karena tak ada orang yang berjualan. Memasak pun juga mengalami kesulitan, karena tak ada air, akibat listrik mati. Yang sangat berarti adalah makanan dan minuman, karena ia sulit dijumpai.

Ketiga, portable toilet. Toilet menjadi masalah tersendiri saat gempa terjadi. Air sulit dijumpai, terutama di Kota Palu, karena listrik mati.

Akibatnya, orang akan menahan buang air kecil atau buang air besar yang menimbulkan penyakit. Jika pun buang air besar atau kecil di toilet, kotoran pun berceceran tak tentu arah, tak tersiram.

Karena itu, pemeritah daerah atau pihak yang berwenang semestinya mempunyai fasilitas ini, sehingga jika gempa terjadi, fasilitas tersebut tersedia.

Sebagai pengganti toilet, bisa juga memakai pampers besar bagi orang dewasa, supaya mereka yang tak bisa menahan buang air kecil atau besar, bisa melakukannya tanpa toilet, tapi memakai pampers. Pampers pun sangat berguna bagi bayi dan anak-anak.

Keempat, menguatkan warga. Dalam kondisi gempa, kepanikan dan kehilangan akal sehat sangat mungkin terjadi.

Pelbagai akibat gempa yang saya tulis di atas, bisa terjadi pula pada banyak masyarakat. Karena itu, penghiburan dan penguatan dari pihak luar sangat dibutuhkan dalam kondisi ini. Pedulilah pada mereka.

Menyikapi Gempa

Semestinya, pihak berwenang, sudah bisa memprediksi akan terjadi gempa. Jika sudah terprediksi, harus ada pengumuman kepada publik luas untuk menghindari lokasi-lokasi yang kemungkinan akan terjadi gempa.

Saat saya di Palu, pengumuman itu tidak pernah saya dengar. Meskipun di beberapa tempat sudah diketahui akan terjadi gempa, tetapi hingga gempa besar terjadi, belum ada pengumuman dan perintah dari pihak berwenang kepada masyarakat untuk mengamankan diri dan menghindari tempat-tempat tertentu. Itu yang pertama.

Kedua, jika gempa sudah terjadi, maka segeralah berikan bantuan kepada masyarakat yang terkena gempa tersebut.

Pelbagai kebutuhan yang saya tulis di atas harus diutamakan. Meskipun disadari, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak bisa segera dipenuhi, karena rusaknya berbagai sarana transportasi yang menyebabkan tidak bisa masuknya alat transportasi udara, laut dan darat.

Ketiga, empati terhadap korban. Gempa bisa terjadi kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Pada kasus saya, tak pernah saya membayangkan akan mengalami gempa seperti ini. Datang ke Palu untuk suatu pekerjaan, tetapi kenyataan yang dihadapi amat jauh dari perkiraan.

Saya duga, banyak orang yang datang ke Palu untuk beragam tujuan, termasuk tujuan berwisata, tetapi justru yang dihadapi adalah situasi sebaliknya.

Jangan lupa, sebagian besar masyarakat yang terkena gempa adalah orang-orang salih, taat beribadah, berakhlak baik dan sebagian mereka adalah orang-orang yang bersabar dan bersyukur.

Pernyataan-pernyataan yang bernada ‘menyalahkan’, sudah dipastikan akan melukai dan menyakiti hati korban yang terkena gempa.

Pemerintah justru harus dibantu sebisa mungkin oleh masyarakat luas dengan menggalang pelbagai bantuan, baik tenaga, dana dan kebutuhan-kebutuhan material utama lainnya.

Keempat, berdoa. Jika kita tak bisa memberikan dan mengusahakan bantuan material kepada mereka, ikhtiar yang paling minimal adalah berdoa, mengirim energi kebaikan kepada mereka, baik dilakukan secara sendiri-sendiri, maupun kolektif, di berbagai tempat ibadah, di masjid, gereja, vihara, dan lainnya.

Kelima, janganlah memanfaatkan gempa untuk kepentingan pencitraan politik, terdongkraknya popularitas dan alat untuk mencapai kekuasaan. Ribuan mereka kehilangan nyawa.

Ada yang kehilangan ayah dan ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga dan tumpuan hidup mereka, ada yang kehilangan anak yang menjadi tumpuan kasih sayang orang tuanya, kehilangan harta benda, kehilangan tempat tinggal dan berbagai wujud kehilangan lainnya.

Janganlah memanfaatkan penderitaan mereka untuk kepentingan di luar para korban gempa. Penderitaan mereka sudah sangat berat dan berlapis-lapis. Bekerjalah dengan tulus.

Pemerintah berada di garda depan menjalankan kewajiban melindungi warganya yang terkena musibah. Masyarakat bahu-membahu membantunya. Insya Allah, semua masalah pasca gempa bumi ini akan segera teratasi, dan mereka bisa pulih kembali seperti sedia kala.

sumber foto : https://foto.kompas.com/photo/read/2018/10/04/153862454005e/Kondisi-Masjid-Arkham-Babu-Rahman-Pasca-gempa-Palu

 

oleh:

Dr. Eneng Darol Afiah, M.Si

Anggota BAN PAUD dan PNF

Dr. Eneng Darol Afiah, M.Si.

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/anggota
Oleh : Dr. Habiburrahman, M.Pd. Pengelola Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Anggota BAN PAUD dan PNF

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/berita/energi-positif-dari-tim
Oleh : Dr. Habiburrahman, M.Pd. Pengelola Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Anggota BAN PAUD dan PNF

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/berita/energi-positif-dari-timur
Oleh : Dr. Habiburrahman, M.Pd. Pengelola Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Anggota BAN PAUD dan PNF

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/berita/energi-positif-dari-timur
Oleh : Dr. Habiburrahman, M.Pd. Pengelola Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Anggota BAN PAUD dan PNF

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/berita/energi-positif-dari-timur
Oleh : Dr. Habiburrahman, M.Pd. Pengelola Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Anggota BAN PAUD dan PNF

Sumber dari: https://www.banpaudpnf.or.id/berita/energi-positif-dari-timur